phobia yang aneh

Suatu pagi di dalam bus kota , masuk 4 orang lengkap dengan alat musik seperti gitar dan gendag. Saya lebih suka menamai mereka sebagai ‘musisi jalanan’ ketimbang (maaf) ‘pengamen’.

Musisi jalanan : Permisi om, tante, kakak. Mau numpang ngamen nih…..

Bla…….bla…….tapi kamu kok selingkuh?….bla….bla….

Sekitar 5-10 menitan kemudian sang musisi jalanan selesai mempersembahkan suaranya. Salah satu dari mereka bertugas dari bagian depan ke belakang untuk menyodorkan kantong sebagai tempat ‘partisipasi’ bagi para penumpang. Satu penumpang terlewati, tanpa hasil di kantong, penumpang ke-2, ke-3, dst sampai belakang tak satupun ‘partisipasi’ penumpang masuk ke kantong sang musisi jalanan meskipun tak jarang mereka juga mencolek2 pundak para penumpang alias sedikit memaksa. Lalu:

Musisi jalanan: Tolong ya, hargai kami. Kami bukan patung yang hanya diliat saja. Kami

bukan tontonan. Bra……k!!! Pintu digebrak sambil turun dengan

mengeluarkan bahasa ‘planet’ yang tak pantas untuk didengar.

Suatu siang di kantin dekat kantor, ketika pembeli sedang menikmati santapan siangnya. Datang seorang bapak, melantunkan lagu yang terdengar ‘asing’ di telinga. Satu persatu, penikmat pecel ayam pun mengangkat telapak tangan sebagai tanda ‘mohon maaf’. Tapi apa yang diucapkan oleh si bapak?

“kalian semua angkuh, pakai jilbab hanya sebagai kedok. Tapi kepedulian kalian mana? Jilbab hanya sebagai penutup saja? Saya minta maaf, saya salah. Dasar P*I (maaf disensor, salah satu nama partai zaman doeloe,red).

Suatu malam di angkutan kota dengan penumpang 5 termasuk saya. Naik 2 orang ‘musisi jalanan’ berusia sekitar 15 tahunan dengan membawa gitar kecil dan gendang dari paralon,

Sang pemuda : Permisi pak, bu. Bla……bla……bla……jantungkupun berdetak saat

……bla….bla…….bla……

Satu tembang selesai, kantongpun beredar dari satu penumpang ke penumpang lain. Dan hasilnya, nihil.

Sang pemuda : Terima kasih atas kesombongannya!!!

Dari kejadian di atas, apakah anda juga pernah mengalaminya? Aroma minuman keras keluar dari mulut sang musisi, bicara dengan nada tinggi, kasar dan tidak jelas bahkan cenderung ngelantur, dan gaya dandanan yang sedikit ‘nyleneh’ menurut saya. Mungkin bagi mereka, hal itu biasa, tapi bagi saya? Sungguh suatu ketakutan yang luar biasa, sampai2 saya phobia dengan yang namanya ‘musisi jalanan’. Tapi tidak semua sih, masih banyak musisi jalanan yang sopan. Wallahu’alam.

20 thoughts on “phobia yang aneh

  1. Hmmm …
    Tidak sepantasnya mereka begitu …
    Saya sebagai Musisi … walaupun bukan jalanan …
    merasa ternodai …

    Kalau nyanyiannya bagus … dan dianya sopan
    aku pikir pendengar akan rela kok merogoh kantong

  2. Itu masalah nasib aja kayaknya ya…
    Musisi-musisi yang lain pada lebih beruntung, seperti DEWA, PADI, PETER PAN dll…😀 hehe..

  3. wohoho.. saya malah pernah melihat mereka memukul kepala penumpang hingga berdarah gara-gara gak dikasih uang..

    akhirnya mereka menerima ludah dan tonjokanku tepat di hidungnya, kemudian dikeroyok rame2 satu bis! kwakakaka…

  4. sayang sekali sebenar nya profesi yang dia lakukan itu
    kalo seandai nya bakat yang dia miliki dia kembangkan
    insya allah dia bisa berhasil contoh saja seperti kangen band

  5. duh parah emang.. kalo ridu kalo gak ngasih ya kita kasih senyuman aja dan bilang maaf, setidaknya mereka merasa dihargai, yg penting kita terlihat sombong dengan gak memberikan senyuman ke mereka

  6. dulu pernah beberapa penumpang ntah beneran tidur ato pura2 tidur trus si pengamen (oknum musisi jalanan) bilang kira2 kaya gini, saya agak lupa “yang udah ngasih semoga selamat sampai tujuan, buat yang pura2 tidur semoga mimpi buruk….bla3”😀
    biasanya saya sengaja bawa receh kalo naik bis ekonomi, kalo nyanyinya jelek saya kasih cepek, kalo bagus saya kasih seribu:mrgreen:
    asal lagi ada receh, saya pasti kasih pengamen duit. dulu pernah iseng ngamen (beberapa kali), jengkel juga emang kalo ngga dikasih apalagi dicuekin, tapi mustinya ngga sampe berkata kasar, itu udah resiko pekerjaan:mrgreen:

  7. kalo aku di sana, kudamprat mereka, “hei, siapa suruh kau nyanyi di sini.” hehe. yah, aneh juga memang. andai mereka datang dengan sopan, benar-benar berekspresi secara tulus, semua orang akan tersentuh hatinya. tapi kalo datang dengan gaya aneh-aneh dan bau alkohol dan menyanyi sambil merokok, siapa yang sudi?

  8. iya padahal kalo mereka sopan dan bikin nyaman orang malah lebih banyak yang ngasih, saya sendiri seringnya gitu kalo ngasih liat2 tampang dan gaya yang ngamen kalo sok sangar dan agak2 mengintimidasi malah gak saya kasih

  9. wahh saya juga pernah ngalami nya… waktu mudik ke kampung.. saya g’ ngasih malah di bentak,, kebetulan duduk di bagian belakang,, karena dikit yang ngasih dia bilang hal yang g’ pantas githu… trus satu lagi ada yang jual buku n majalah yang maksa maksa buat beli😀 emang aneh dehhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s