Suamiku orangnya pendiam, susah mengungkapkan perasaannya, tidak terlalu romantis. Setelah sekian lama aku membina rumah tangga dengannya aku merasakan bahwa rumah tangga kami terasa hampa, ada sesuatu yang selalu kuinginkan tetapi tak dapat kudapatkan. Seringkali kuungkapkan keinginanku, tetapi hanya jawaban dan senyuman yang sering kudapatkan. Tanpa tindakan berarti yang bisa membuatku bahagia.
Sampai suatu ketika, kuberanikan diri untuk mengambil keputusan, “aku ingin berpisah darinya”. Ya, inilah keputusan tersulit dalam hidupku, yang akhirnya harus kuambil. Aku sudah tidak mampu untuk mempertahankan rumah tangga ini, aku sudah lelah untuk mengungkapkan kemauanku, aku sudah tak sanggup untuk selalu mengerti keadaanmu.
Apakah tidak ada cara lain selain berpisah dariku? Apakah hatimu sudah benar-benar tertutup, hingga kaupun akan mengakhiri semuanya? Apakah tidak ada sedikit harapanku untuk membuat semuanya menjadi lebih baik sesuai dengan keinginanmu. Itulah pertanyaan suamiku yang kuterima sebagai jawaban dari keputusanku. Kubalas dengan pertanyan pula, seandainya di bukit yang tinggi tumbuh setangkai mawar indah dan aku sangat menginginkannya, apakah engkau akan mengambilkannya untukku meskipun di bawahnya terdapat jurang dalam yang akan merenggut nyawamu? Kalau engkau tahu jawabannya, mungkin aku akan mengubah keputusanku.
Pagi ini, ketika aku terbangun dari mimpi malamku, tak kudapati suamiku duduk sambil mengelus-elus dahiku, tak kudapati wajahnya yang bercahaya usai pulang dari sholat subuh di masjid, tak kudapati sapaan lembutnya. Kusibakkan selimutku, kucari jejaknya di kamar mandi, tak kutemui. Kucari jejaknya di ruang depan seperti kebiasaanya selama ini melihat siaran berita pagi sehabis subuhan, dan tak kutemui pula.
Tiba-tiba mataku tertuju pada secarik kertas yang ditaruh di atas kulkas, sebagai barang pertama yang kusentuh di pagi hari untuk menyiapkan sarapan. Ketika kubuka kertas itu, dan perlahan-lahan kubaca:
Maaf nduk, aku tidak akan mengambil mawar itu meskipun nduk sangat menginginkannya. Deg….aku semakin kecewa dengan kalimat pertama. Semakin yakin hatiku untuk berpisah darinya. Kuteruskan membaca surat itu. Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak akan mengambil mawar itu. Karena aku tidak mau melihatmu bersedih, menangis sepanjang waktu, menangisi kepergianku karena mengambil mawar itu. Aku tidak tega seandainya sisa umurmu engkau habiskan untuk menyesali permintaanmu yang menyebabkan aku pergi selama-lamanya darimu. Aku akan berusaha memenuhi semua kemauanmu, tapi tidak untuk yang satu itu, yang justru akan membuatmua bersedih sepanjang waktu.
Aku hanya menjadi pendengar setiamu selama ini, karena aku berharap di saat kita telah tua dan kau lelah bercerita, maka akulah yang akan menggantikanmu bercerita. Akulah yang akan menuntunmu saat kakimu telah sulit melangkah. Akulah yang akan terus membangunkanmu untuk menyempatkan diri menyapa Ilahi. Akulah yang akan menyisir rambutmu di saat tanganmu sudah tak kuat lagi melakukannya. Akulah yang akan membacakan segala sesuatu yang kamu suka saat matamu sudah tak mampu lagi menatap. Akulah yang akan membantumu mendengarkan suara-suara indah dan merdu di saat telingamu sudah tidak mampu.
Perasaanku kusimpan sendiri, bukannya aku sulit untuk mengungkapkan kepadamu, karena aku ingin bahwa perasaan ini selalu tumbuh padamu tanpa diumbar, hanya dengan perilaku yang akan kau terima sepanjang usiamu. Keromantisanku tak terungkapkan setiap saat, karena aku tahu kamu akan bosan jika aku sering melakukannya. Aku bukan lelaki gombal yang terlalu mengagungkan keromantisan.
Percayalah, bukanya aku tidak sayang padamu dengan tidak mengambilkan mawar itu. Karena hanya satu, “aku ingin mendampingimu sampai kapanpun, dan jangan pernah mengira cintaku sedangkal itu. Jika memang jawabanku memuaskan hatimu, tolong bukakan pintu depan. Jika tidak, izinkan aku mengemasi barang-barangku, dan akan aku relakan engkau mencari seseorang yang akan mengambilkan mawar itu.
Cepat-cepat kubuka pintu depan, dan kudapati suamiku sedang membawa seporsi lontong sayur komplit, sarapan kesukaanku. Ayah…maafkan nduk ya…….
*****repost dari sepupuku dengan banyak perubahan semauku yang diberikan saat aku menikah dulu*****



















subhanallah….aku bener2 terharu membaca tulisan ini….sungguh bijak ayah….
memang benar apa yang telah dikatakannya….
trimakasih mbak, ini pelajaran lagi buatku….
semoga tetep menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, amin ya rabbal alamin…
salam ke ayah…
nice.. ^_^
Subhanallah.. Subhanallah.. Subhanallah..
Tulisan yang mampu menyentuh jiwa. Keharuan, bahagia dan syukuran tertuang jadi satu dalam perasaan. TFS (Thanks For Sharing)
speechless…
begitulah yu, remaja kita saat ini memaknai cinta dengan arti yang sangat dangkal. seperti: kalo sayang aku, ayo kita ML, dan sebagainya..
sebagai hadiah lebaran, terimalah THR dariku….
Cerita yang luar biasa.
Ada cerita yang sering saya dengar:
Ketika usia pernikahan beranjak 1 tahun, disitulah “kebosanan” akan melanda .
Bener g’ Tante??
Salut …. inspiratif …..
walah…tak kira beneran mau cerai…
hmmm haru…. indah….
penuh inspiratif….
Ketika cinta diungkapkan akan mengurangi rasa cinta, tindakan justru akan menyuburkan cinta dihati….
semoga bahagia selalu ya
Lelaki sempurna…!!! Akukah lelaki itu untuk istriku????? Ah, jadi malu aku…. hiks… *ngeloyor pergi*
Keren banget isinya…. !! ^^
tok..tok…tok….
spada??? kulonuwun….
namu nich,
boleh minta secangkir teh??
salam kenal yach…
Nice Sob
bagus ..
masa sih dalamnya cinta, ngukurnya seperti itu ?
wah keren mbak……..tapi pernah baca cerpen aslinya waktu masih dipondok
rumahnya baru direnofasi nich?
Unda…aku ada “sesuatu” buat dedek….mampir ya…
Huwaaa….. mbak ceritanya bikin nangis abissss……….
(Eh pura-pura nggak nangis ahhhh)
Mbak suaminya top….
Kayak bapakku dulu…
Nggak romantis tapi bakalan jadi suami yang top..
Pokoknya top…
keren…. sip…. wuih bagus…
peace & love.. ^_^
hi.. ^_^
udah lama ga makan lontong sayur
jadi pengen cepet dapet suami…
mencintai adalah amanah..
cinta saya sedalam samudara..
seluas jagat raya ini…
hehehe
salam kenal
selamat idul fitri 1429H, mohon maaf lahir & bathin yaaa.. ^_^
keren… eh… maav lahir batin iah…
hu hu hu hu 9999x menangis yang bukan sembarang menangis. Tapi menangis karen lupa kasih sayang. . . ! Thank you very much.
Blogger Ngawi
saya lupa pernah dapat tulisan ini di milis apa. tapi membacanya lagi benar-benar menyejukkan hati bagi perempuan bersuami sabar seperti saya
salam kenal dari Surabaya.
Sip
subahannallah,… sy jd ingat seorang mantanku. sikapnya persis seperti it. diam.. kaku.. selalu sj ak yg ungkapkan perasaan sayangku. g ngerti isi kepalanya ttg ku it ap? setelah baca in kemungkinan isi kepalanya seperti it y? tp sayang skrg sy dah putus dg nya ….